Parasit Patogen Variabel Utama Seleksi Genetik Manusia

Jurnal KeSimpulan.com – Parasit mempercepat variasi genetik manusia. Adaptasi terhadap patogen lebih penting dibanding iklim dan pola makan dalam seleksi alam manusia.

Manusia modern keluar dari Afrika 100.000 tahun lalu untuk menetap di wilayah jauh di mana harus beradaptasi dengan iklim asing, menemukan cara baru untuk makan dan melawan patogen baru.

Penelitian baru menemukan patogen terutama cacing parasit menjadi driver utama seleksi alam. Tapi adaptasi genetik mungkin juga membuat manusia lebih rentan terhadap penyakit autoimun.

“Tujuannya untuk memahami variasi yang paling membentuk genetik manusia,” kata Matteo Fumagalli, genomikawan University of California di Berkeley, melapor ke PLoS Genetics

Populasi yang terpisah jarak cenderung membuat genetik menjauh dari waktu ke waktu dan sekitar 95% variabilitas antar populasi adalah hasil dari penyimpangan tersebut. Tapi lingkungan lokal memainkan bagian.

Varian genetik meningkatkan kelangsungan hidup di wilayah tertentu dan cenderung menjadi lebih umum. Mencari korelasi frekuensi varian berbeda dalam populasi dan faktor-faktor lingkungan seperti iklim maka kita dapat memahami driver adaptasi manusia.

Para peneliti menggunakan data lebih dari 1.500 orang mewakili 55 populasi berbeda dengan menghitung frekuensi varian genetik yang berbeda. Model statistik dikembangkan untuk memprediksi distribusi varian.

Model ini menggabungkan 3 variabel lingkungan penekan seleksi genom manusia yaitu iklim, pola makan dan keragaman patogen.

“Kami menunjukkan semua faktor penting, tetapi faktor terkuat adalah lingkungan patogen,” kata Rasmus Nielsen, biokomputasi di University of California di Berkeley.

Cacing parasit menjadi pendorong kuat seleksi alam dibanding virus atau bakteri. Bakteri dan virus berkembang dengan cepat. Namun cacing bagaimanapun berkembang lebih lambat sehingga memberi banyak waktu memperkuat pertahanan diri manusia.

Model menetapkan 103 gen paling berkorelasi dengan keanekaragaman patogen. Hampir seperempat gen terlibat dalam kekebalan. Tampaknya juga meningkatkan kerentanan terhadap penyakit autoimun seperti multiple sclerosis, diabetes tipe 1 dan celiac.

Nielsen mengatakan adaptasi patogen mengubah gen kita menjadi lebih rentan terhadap penyakit autoimun ketika patogen tidak hadir.

“Ada trade off dimana sistem kekebalan tubuh Anda terlalu aktif dan tidak aktif. Jika patogen tidak ada, gen yang sama menyebabkan penyakit autoimun. Ini cocok dengan kelayakan hipotesis,” kata Nielsen.

Namun, Bryan Kolaczkowski, bioevolusioneris University of Florida di Gainesville, mengatakan bukti tidak cukup untuk membuat kausalitas adaptasi patogen dan penyakit autoimun.

“Ini spekulasi yang wajar, tapi saya tidak akan mengatakan adanya kesimpulan kuat dari laporan ini,” kata Kolaczkowski.

Bukti lebih meyakinkan jika peneliti menemukan varian genetik sama yang memungkinkan melawan patogen juga meningkatkan kerentanan terhadap penyakit autoimun, kata Kolaczkowski.

Namun Kolaczkowski yakin dan sependapat patogen lebih penting dibanding iklim dan pola makan dalam seleksi adapatasi evolusi manusia.

“Adaptasi sistem kekebalan tubuh seperti saklar ON/OFF,” kata Kolaczkowski.

Angela Hancock, genomikawan University of Chicago, Illinois, menunjukkan semua variabel saling terkait ke PLoS Genetics, iklim mempengaruhi distribusi patogen.

Penelitian Hancock menunjukkan ada hubungan antara patogen dan strategi perlakukan pada hewan. Karena patogen banyak ditemukan pada hewan dapat menginfeksi manusia maka tidak ada keraguan patogen menjadi kekuatan penting dalam seleksi manusia.


Signatures of Environmental Genetic Adaptation Pinpoint Pathogens as the Main Selective Pressure through Human Evolution

Matteo Fumagalli1,2, Manuela Sironi1, Uberto Pozzoli1, Anna Ferrer-Admettla3, Linda Pattini2, Rasmus Nielsen3

  1. Scientific Institute IRCCS E. Medea, Bioinformatic Lab, Bosisio Parini, Italy
  2. Bioengineering Department, Politecnico di Milano, Milan, Italy
  3. Departments of Integrative Biology and Statistics, University of California Berkeley, Berkeley, California, United States of America

PLoS Genetics, 7(11): e1002355, November 3, 2011

Akses : DOI:10.1371/journal.pgen.1002355



Adaptations to Climate-Mediated Selective Pressures in Humans

Angela M. Hancock1, David B. Witonsky1, Gorka Alkorta-Aranburu1, Cynthia M. Beall2, Amha Gebremedhin3, Rem Sukernik4, Gerd Utermann5, Jonathan K. Pritchard1,6, Graham Coop1,7, Anna Di Rienzo1

  1. Department of Human Genetics, University of Chicago, Chicago, Illinois, United States of America
  2. Department of Anthropology, Case Western Research University, Cleveland, Ohio, United States of America
  3. Department of Internal Medicine, Addis Ababa University, Addis Ababa, Ethiopia
  4. Laboratory of Human Molecular Genetics, Department of Molecular and Cellular Biology, Institute of Chemical Biology and Fundamental Medicine, Russian Academy of Sciences, Novosibirsk, Russia
  5. Institute for Medical Biology and Human Genetics, Medical University of Innsbruck, Innsbruck, Austria
  6. Howard Hughes Medical Institute, Chevy Chase, Maryland, United States of America
  7. Department of Evolution and Ecology and Center for Population Biology, University of California Davis, Davis, California, United States of America

PLoS Genetics, 7(4): e1001375, April 21, 2011

Akses : DOI:10.1371/journal.pgen.1001375


Matteo Fumagalli http://cteg.berkeley.edu/members/fumagalli.html
Rasmus Nielsen http://cteg.berkeley.edu/nielsen.html
Bryan Kolaczkowski http://microcell.ufl.edu/personnel/faculty/Kolaczkowski.shtml
Angela Hancock http://bergelson.uchicago.edu/people/angelas-page.html

Gambar : Museum Sangiran (Gunawan Kartapranata dalam En Wikipedia)


Terkait : 

Tentang robby58

Robby Asti Pratama. SP Seorang Penyuluh THL TBPP Angkatan III Thn. 2009, bekerja di WKPP Aro, Kec. Muara Bulian, Kab. Batang Hari, Jambi. "Hidup adalah perjalanan panjang menuju kemuliaan, kemuliaan adalah memberikan manfaat bagi diri sendiri dan lingkungan. Tak perlulah melihat sejauh mana perjalanan yang telah dan akan ditempuh..."
Pos ini dipublikasikan di Berita. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s