Daulat Tani di Atas Ilmu dan Tanah Sendiri

Pada mulanya, persoalan pangan adalah bagian dari cara manusia memahami dan menyikapi kehidupan secara utuh. “Tegur sapa” antara pemahaman dan penyikapan kemudian melahirkan apa yang belakangan disebut kultur. Dalam hal cocok tanam, kita lalu mengenal istilah “agrikultur” sebagai nama lain dari pandangan hidup ihwal dunia bercocok tanam yang mempertimbangkan harmoni hubungan dengan seluruh gerak kehidupan.

Lambat laun, ketika peradaban cenderung dimekanisasi dan diperumit oleh istilah yang berjejalan, pangan mengalami penyempitan makna, tindakan, dan penghayatan sekaligus. Di negeri ini, kita merasakan, betapa isu pangan dari rezim ke rezim lebih dikentalkan sebagai isu politis. Pada titik ini, alih-alih peduli pada khasanah agrikultur, kuasa politik nyaris tak lagi punya urusan dengan perut rakyat.

Ketahanan pangan nasional –yang ditopang dengan desain kerja top-down, dalil-dalil ekonomi makro, serta manipulasi statistik –dimutlakkan dan dirayakan sebagai prestasi politik. Ironisnya, pemutlakan itu lebih sering diselenggarakan dengan modus penindasan dan pembungkaman hak-hak rakyat dalam memiliki dan mengelola sumber-sumber kehidupan mereka secara mandiri.

Tentu saja, penindasan dan pembungkaman itu dijalankan melalui “klik” antara kuasa ekonomi global dengan kuasa rezim pemerintahan. Kita ingat, sejak logika Malthusian sukses meneror kebijakan negara-negara Dunia Ketiga, sejak itu pula “revolusi hijau” (green revolution) dilaksanakan secara paksa.

Terlihat dengan gamblang di negeri ini, sejak akhir 1960-an hingga 1980-an, melalui hegemoni pengetahuan, rakyat dijauhkan dari khasanah agrikultur yang diwariskan dari generasi ke generasi. Yang tradisional lalu dicap sebagai keterbelakangan. Mesin traktor, benih IR5 dan urea, misalnya, dipropagandakan lebih hebat daripada bajak kerbau, bibit mentik wangi, dan pupuk alami.

Melalui dominasi negara, secara represif, rakyat pun dipaksa tunduk oleh serangkaian kebijakan yang mengatur kepemilikan tanah, pemilihan varietas, teknik pengolahan, hingga distribusi hasil tanam. Akhirnya, jangankan mengatasi kelaparan, revolusi hijau malah merusak lingkungan, melahirkan keseragaman, ketergantungan, dan, yang menjengkelkan, kelumpuhan budaya untuk bertani.

Buku yang kita diskusikan ini beranjak dari sejumlah keresahan dan pengalaman yang dialami penulisnya selama puluhan tahun terlibat di dunia pertanian. Buku ini disusun lebih dari sekadar disertasi doktoral di University of Massachusetts, tapi juga merupakan bagian dari upaya transformasi sosial. Elias, penulisnya yang berdarah Betawi-Flores, butuh lebih dari sepuluh tahun untuk menyelesaikannya.

Gagasan buku ini dimulai dengan mempersoalkan narasi-narasi besar yang mengungkung dunia pertanian Indonesia seperti telah disinggung di muka. Sejumlah data dan temuan empirik dipaparkan untuk membongkar janji palsu revolusi hijau. Sebagai tandingan balik, Elias memakai istilah indigeneous knowledge atau “kearifan asli” untuk menyebut sejumlah khasanah pertanian yang dipraktikkan komunitas-komunitas petani.

Dalam desain penelitiannya, Elias mengambil posisi sebagai participant observer : mendokumentasikan, terlibat penuh, dan ikut mendorong komunitas untuk mengenali problem serta mencapai tujuan bersama. Dengan metode studi kasus, ia memilih subyek yang spesifik dan bergerak dalam kedalaman. Dengan begitu, ia berharap kekayaan khasanah agrikultur bangsa sedikit demi sedikit bisa didayagunakan kembali.

Titik fokus pembahasan buku ini adalah integrated pest management (IPM) atau pengendalian hama terpadu dalam pertanian polikultur. IPM merupakan konsep pengendalian hama tanpa atau dengan sedikit mungkin pestisida. Prinsipnya, biarkan alam mengurus dirinya sendiri. IPM percaya tiap hama bisa diatasi dengan mendayagunakan musuh alaminya. Di situlah petani perlu tahu dan peka bahwa mereka cukup merangsang keseimbangan alam melalui bahan dan peranti yang sudah disediakan alam sendiri.

Kita diajak berkenalan dengan tiga responden utama: Mbah Suko (Mungkid, Magelang), Mbah Murdjiyo, dan Mbah Slamet (Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta). Tiga orang ini dipilih lantaran mereka memahami persis laku bertani secara organik selama puluhan tahun. Hingga kini mereka sudah melatih ribuan petani. Mereka revolusioner pada gagasan dan reformatif dalam tindakan. “Profesor saya”, ungkap Elias, “memang di Amerika sana, tapi ketiga mbah ini adalah guru besar saya dalam sistim pertanian alami traditional.”

Pengalaman setengah abad lebih menjadi petani membuat ketiga mbah ini paham betul sejarah pertanian di level akar rumput, jeroan, dan segenap liku-likunya. Dari sana, Elias menarasikan secara komparatif praktek Bimas –sebagai ejawantah revolusi hijau di Indonesia –dengan praktik bertani secara tradisional-lokal.

Menarik untuk menyimak penilaian Mbah Murdjiyo soal Bimas, yang baginya tak cuma menyebabkan degradasi tanah. Ia prihatin, akibat pemaksaan proyek turunan green revolution, komunitas petani harus membayar ongkos sosial yang teramat mahal: hilangnya gotong royong dan kemerdekaan. Lambat laun petani digiring untuk menjadi individualis dan budak justru di atas tanah sendiri.

Mbah Murdjiyo menolak Bimas dan tetap kukuh mengembangkan metode tradisionalnya. Memang tidak mudah lantaran mula-mula ia dianggap musuh pemerintah dan dijauhi petani kanan-kiri. Bagaimanapun, ia lebih percaya pada keampuhan ilmu dan sikap bertani yang diwariskan nenek-moyang. Budidaya benih-benih lokal (termasuk mengupayakan hibridasi), penggunaan pupuk alami, penghitungan pranoto mongso (kalender pertanian tradisional), dan penelitian terus-menerus di laboratorium rumahnya adalah serangkaian kerja yang ia lakukan. Yang menarik, Mbah Murdjiyo mampu menganalisis dan mengkalkulasi untung-rugi dengan tepat. Ia bisa bicara banyak soal tingkat produktivitas sampai situasi pasar terkini.

Kisah Mbah Slamet hampir serupa. Bedanya, Mbah Slamet sempat mengamini Bimas lebih dulu, bahkan ikut bangga ketika pada 1985 pemerintah mengklaim Indonesia sudah swasembada pangan. Baru pada 1990 ia bertobat setelah melihat Bimas menghasilkan banyak kebangkrutan. Begitu ikut terlibat dalam program IPM, Mbah Slamet ganti haluan menjadi petani organik. Ia menanam mentik wangi, pandan wangi, dan rojolele; kembali memedomani pranoto mongso; mengembangbiakkan jamur Beuvaria bassiana sebagai pembasmi walang sangit; hingga mencampur air kencing ternak dengan daun kacang polong sebagai pupuk.

Keistimewaan Mbah Slamet yang mesti juga disebut adalah keahliannya bergaul dengan ternak. Ia “dokter hewan” tanpa cum. Dengan keahliannya ini, ia sempat bekerja di Departemen Pertanian divisi peternakan hingga pensiun pada 1995.

Bagaimana dengan Mbah Suko? Elias menjulukinya “penyelamat beras pusaka”. Tak kurang dari 34 jenis beras lokal Di antaranya sudah langka dan nyaris punah ia rawat baik-baik. Betok, Cere, Saodah, Lare Angon, Joko Dolan, Dewi Sri, Sarinah, Kalinyamat, Roro Jonggrang, Pocung, Saidjah, dan Ketan Marhaen adalah sebagian jenis beras yang ada dalam koleksi Mbah Suko. Elias menulis “dari usaha penyelamatan padi-padi lokal oleh Mbah Suko ada dua jenis yang sekarang popular di masyarakat, yaitu Betok yang sangat cocok untuk campuran formula makanan bayi dan Melik Jowo yang berasnya berwarna hitam sangat dicari oleh kaum wanita yang emoh gemuk dan ingin selalu langsing.

Mbah Suko menolak Bimas sudah sejak program itu diinstruksikan secara paksa ke desanya. Keteguhannya untuk nguri-uri (melestarikan) khasanah sendiri membuatnya dicap sebagai terlibat dengan OT alias Organisasi Terlarang. Demikian tercetak di KTP-nya sejak akhir 1960-an. Tapi, Mbah Suko adalah orang dengan teduh-desa dan tak suka argumentasi-kota. Ia melawan dalam diam seraya meneguhi pendirian.

Berpuluh-puluh tahun ia menggali dan mengembangkan ragam teknik pertanian organik dengan mengandalkan kemandirian dan kekuatan komunitas. Dari Mbah Suko, Elias secara khusus mencatat teknik mina-padi, yakni teknik kombinasi menanam padi dengan budidaya ikan; ragam cara membuat pupuk secara mandiri; dan aneka pembasmi hama alami (seperti gadung, biji mahoni) dan laba-laba sebagai pemangsa hama pengganggu tanaman.

Dalam hemat saya, Mbah Murdjiyo, Mbah Slamet, dan Mbah Suko adalah tiga dari sekian banyak petani serupa yang tersebar di seantero Nusantara. Mereka sesungguhnya sudah melampaui sikap ilmiah. Ilmu pengetahuan berkembang dalam keseharian mereka yang intim dengan alam. Sikap semacam itu terumuskan, misalnya, dalam ungkapan Jawa “kelakone ngelmu kanti laku” (ilmu itu terejawantah dengan/dalam laku). Kemanunggalan dengan alam itulah yang meniadakan jarak antara petani dengan sawahnya dan melarutkan ambisi eksploitasi ke dalam keseimbangan kosmos.

Sudah semestinya mereka yang dididik dalam “bangku-bangku modernitas” bisa ambil bagian dalam proyek besar agrikultur yang percaya pada kekuatan sendiri. Kekurangan kalau memang boleh disebut begitu –yang menimpa kebudayaan kita satu dan lain hal disebabkan lemahnya tradisi literasi dan dokumentasi. Maka, pada zaman ketika lalu lintas informasi dan wacana menjadi sedemikian menentukan, bukankah kita sekalian menanggung tanggung jawab kebudayaan?

Ahmad Musthofa Haroen, Divisi Riset BPPM BALAIRUNG UGM, Yogyakarta

Judul: Reinventing Indigenous Knowledge – The Indonesian Integrated Pest Management Farmers Experiences from Traditional to Eco-Agriculture.
Penulis: Elias Tana Moning, BA Phil., M. Agr., Ed.D
Penerbit: VDM Verlag Dr. Müller Aktiengesellschaft & Co. KG.
Tahun: September 2008
Halaman: 244 hlm.

http://www.ruangbaca.com

Tentang robby58

Robby Asti Pratama. SP Seorang Penyuluh THL TBPP Angkatan III Thn. 2009, bekerja di WKPP Aro, Kec. Muara Bulian, Kab. Batang Hari, Jambi. "Hidup adalah perjalanan panjang menuju kemuliaan, kemuliaan adalah memberikan manfaat bagi diri sendiri dan lingkungan. Tak perlulah melihat sejauh mana perjalanan yang telah dan akan ditempuh..."
Pos ini dipublikasikan di Berita. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s