Padi Hibrida dan Pestisida Picu Serangan Wereng

Penanaman varietas padi yang tidak tahan hama, khususnya padi hibrida dan penggunaan pestisida berlebihan dan tidak sesuai dosis disinyalir sebagai pemicu membludaknya serangan hama wereng batang cokelat (WBC). Karena itu pemerintah harus mengevaluasi pemberian ijin pengembangan varietas padi hidrida.

Pakar perlindungan tanaman, Universitas Gadjah Mada (UGM), Kasumbogo Untung mengungkapkan, penggunaan varietas yang tak resisten menjadi pemicu merebaknya serangan WBC. Selama ini padi hibrida memang peka terhadap hama penyakit. “Ini memang sifat padi hibrida. Kalau perluasan penanaman padi hibrida makin besar maka kerentanannya juga akan meningkat dan populasi hama juga ikut naik,” katanya dalam Workshop Nasional Wereng Batang Cokelat di Jakarta, Rabu (19/5).

Kasus serangan WBC di beberapa negara produsen padi, seperti China, Thailand dan Vietnam juga menjadi bukti. Di negara tersebut banyak lahan padi hibrida yang terserang WBC. Bahkan di China yang selama ini terkenal sebagai salah satu produsen padi hibrida luasnya sudah mencapai jutaan hektar.

Selain faktor padi hibrida, Kasumbogo menduga, merebaknya WBC karena penggunaan pestisida yang kurang tepat. WBC sebenarnya hama minor, tapi karena kecerobohan penggunaan pestisida secara berlebihan,membuat hama tersebut menjadi resisten atau lebih tahan terhadap pestisida.

“Penyemprotan pestisida yang tidak sesuai dosisi tidak akan membunuh hama, justru yang terjadi wereng makin tahan terhadap pestisida dan memicu perkembangbiakan hama,” kata Kasumbogo.

Pengalaman terjadi pada tahun 1980-an, akibat penggunaan varietas yang peka terhadap WBC dan penggunaan pestisida berlebihan tidak menimbulkan ledakan hama tersebut. Saat ini setidaknya ada 175 formula pestisida yang pemerintah ijinkan untuk memberantas hama, termasuk wereng. Padahal banyak petani tidak mengetahui pestisida mana yang akan digunakan untuk wereng.

Karena itu, Kasumbogo meminta pemerintah membatasi penanaman varietas yang peka terhadap WBC, khususnya hibrida. Selain itu pemerintah memberikan penyuluhan ke petani agar menggunakan pestisida sesuai dosis. “Sekarang banyak benih padi hibrida yang sudah diijinkan tapi tidak tahan WBC,” katanya.

Padahal, menurut Kasumbogo, hama tersebut cepat resisten dan beradaptasi terhadap lingkungan. Dengan demikian, kalau penggunaan pestisida tidak tepat justru membuat hama tersebut lebih tahan terhadap pestisida. “Kalau serangan wereng ini dibiarkan akan outbreak besar. Jadi sudah saatnya PHT (pengendalian hama terpadu,red) kita tingkatkan kembali,” ujarnya. Julian

http://agroindonesia.co.id

Tentang robby58

Robby Asti Pratama. SP Seorang Penyuluh THL TBPP Angkatan III Thn. 2009, bekerja di WKPP Aro, Kec. Muara Bulian, Kab. Batang Hari, Jambi. "Hidup adalah perjalanan panjang menuju kemuliaan, kemuliaan adalah memberikan manfaat bagi diri sendiri dan lingkungan. Tak perlulah melihat sejauh mana perjalanan yang telah dan akan ditempuh..."
Pos ini dipublikasikan di Berita. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s