Eksport Rotan Dilarang, Petani Menjerit

SAMPIT–Walaupun larangan ekspor rotan yang disepakati Menteri Perdagangan dan Menteri Perindustrian baru mulai diberlakukan Selasa (1/11) hari ini, petani di Kabupaten Kotim sudah menjerit. Sejak Jumat (28/10) pekan lalu, sudah tidak ada pengumpul yang membeli hasil hutannya. Praktis hasil bumi mereka tidak laku. Bahkan, ribuan ton rotan di gudang Pelabuhan Trisakti Banjarmasin terancam telantar.

“Jika sebelumnya harga rotan di tingkat petani Rp2.600 per kilogram, sekarang sudah tidak ada harga lagi. Rotan tidak laku, tidak ada yang mau membeli. Kalau sekadar turun harga masih lumayan karena ada yang mau beli. Namun, sekarang memang tidak ada lagi yang mau membelinya meski barang banyak,” kata Dahlan Ismail dari Persatuan Masyarakat Petani, Pengumpul, dan Pekerja Rotan Kotim, Senin (31/10) kemarin.

Menurut Dahlan, saat ini ada sekitar 5.000 ton rotan yang tidak bisa dikapalkan setelah ada kebijakan itu. “Kalau dijual ke industri dalam negeri, tidak mungkin seluruhnya bisa terserap sehingga hampir dipastikan akan telantar,” terangnya lagi.

Menurutnya, saat ini di Kotim belum ada industri rotan. Kalaupun ada, hanya ada pabrik pengolah rotan menjadi barang setengah jadi.“Makanya kita sangat bingung dengan adanya kebijakan ini,” jelasnya.

Dikatakannya, 60 persen masyarakat Kotim yang tinggal di pedalaman menggantungkan hidup mereka dari hasil rotan dan menoreh karet. Jika kebijakan ini tetap diberlakukan, ribuan warga masyarakat akan kehilangan pekerjaan, mulai dari petani, pengumpul, hingga para pekerja rotan.

Menurutnya, pihaknya akan menempuh berbagai upaya agar diberikan solusi untuk mengatasi persoalan ini, termasuk meminta bantuan pemkab dan DPRD Kotim untuk menyuarakannya kepada pemerintah pusat.
Menurut Dahlan, rencananya hari ini mereka akan menggelar unjuk rasa di depan kantor bupati dan DPRD Kotim.

“Kita sudah meminta izin dari Polres Kotim untuk menggelar aksi unjuk rasa dan diberikan waktu pada hari Selasa (hari ini, Red.). Rencananya aksi unjuk rasa ini akan diikuti sekitar 500 petani, pengumpul, dan pekerja rotan di Kotim. Awalnya kita mengajukan akan diikuti 1.000 orang, namun yang diizinkan hanya 500,” terang Dahlan.

Menurut Dahlan, unjuk rasa akan dimulai sekitar pukul 07.00 setelah massa dari Kotabesi tiba. Mereka akan langsung menuju kantor bupati dan DPRD Kotim. Aksi tersebut akan berakhir sekitar pukul 12.00. “Kita ingin kebijakan penutupan keran ekspor rotan mentah ini ditinjau ulang karena sangat merugikan petani, pengumpul, dan pekerja rotan di Kotim,” terangnya.

Menurutnya, saat ini produksi rotan di Kotim mencapai 1.000 ton per bulan, sementara industri  dalam negeri hanya mampu menyerap sekitar 200 ton rotan Kotim per bulan sehingga sisanya diekspor dengan negara tujuan utama Cina.

“Kita memahami maksud pemerintah yang ingin menggerakkan industri rotan dalam negeri sehingga tidak hanya mengandalkan ekspor bahan mentah. Namun, jika langsung menutup seluruh keran ekspor rotan mentah dan setengah jadi, tentunya kami belum siap mencari pasar dalam negeri. Hal ini sangat berpengaruh besar dengan produksi rotan di Kotim yang dipastikan akan menurun drastis,” terang pria berkacamata itu.(arb/yon/jpnn)

Tentang robby58

Robby Asti Pratama. SP Seorang Penyuluh THL TBPP Angkatan III Thn. 2009, bekerja di WKPP Aro, Kec. Muara Bulian, Kab. Batang Hari, Jambi. "Hidup adalah perjalanan panjang menuju kemuliaan, kemuliaan adalah memberikan manfaat bagi diri sendiri dan lingkungan. Tak perlulah melihat sejauh mana perjalanan yang telah dan akan ditempuh..."
Pos ini dipublikasikan di Berita. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s