MANAJEMEN PUPUK ORGANIK

Pupuk mempunyai peranan penting dalam peningkatan produksi. Dan produktivitas pertanian. Pemerintah terus mendorong penggunaan pupuk yang efisien melalui kebijakan subsidi dan distribusi pupuk yang telah diterapkan mulai dari tahap perencanaan kebutuhan, penetapan Harga Eceran Tertinggi (HET), besaran subsidi hingga sistem distribusi ke pengguna pupuk. Kebijakan tersebut belum mampu menjamin ketersediaaa pupuk yang memadai dengan HET yang teIah ditetapkan, masih sering terjadi berbagai kasus antara:

(a) kelangkaan pasokan pupuk yang menyebabkan harga aktual melebihi HET, dan (b) marjin pemasaran lebih tinggi dari yang telah ditetapkan pemerintah. SeIain itu perencanaan aIokasi kebutuhan pupuk yang belum sepenuhnya tepat, pengawasan yang belum maksimal, kebocoran penyaluran pupuk bersubsidi ke luar petani sasaran masih sering ditemukan, sehingga menimbulkan kelangkaan dan harga pupuk melebihi HET hal ini diperlukan perhatian mengenai aspek teknis, aspek manajemen dan aspek regulasi.

Aspek Teknis
Meningkatkan ketepatan penggunaan pupuk
Tingkat pemupukan bervariasi, petani melakukan pupuk yang lebih rendah dari rekomendasi. Penggunaan pupuk yang berlebih atau kurang akan menurunkan efisiensi dan efektivitas penggunaan pupuk. Empat hal yang harus diperhatikan untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas penggunaan pupuk yaitu:

a. tepat jenis yaitu memilih kombinasi jenis pupuk berdasarkan komposisi unsur hara utama dan tambahan berdasarkan sifat kelarutan, sifat sinergis dan antagonis antar unsur hara dan sifat tanahnya,
b. tepat waktu 
frekuensi yang ditentukan oleh iklim / CH, sifat fisik tanah dan logistik pupuk,
c. tepat cara 
yaitu cara pemberian yang ditentukan berdasarkan jenis pupuk, umur tanaman dan jenis tanah,
d. tepat dosis 
yaitu dosis pupuk yang diperlukan berdasarkan analisa status hara tanah dan kebutuhan tanaman.

Perencanaan empat tepat tersebut dapat tercapai apabila didukung oleh perencanaan kebutuhan pupuk yang tepat dan rinci dari masing-masing petani atau kelompok tani. Untuk menyusun rencana kebutuhan pupuk dalam bentuk RDKK yang komprehensif diperlukan informasi: 1) sifat-sifat tanah, 2) rekomendasi pemupukan spesifik lokasi, 3) luas lahan dan pemiliknya, 4) lokasi, dan 5) komoditas yang diusahakan. Sebagian besar data base dan informasi tersebut belum tersedia secara lengkap, baik di tingkat daerah maupun pusat, sehingga penyusunan RDKK belum didasarkan pada data yang akurat.

http://sinartani.com

Tentang robby58

Robby Asti Pratama. SP Seorang Penyuluh THL TBPP Angkatan III Thn. 2009, bekerja di WKPP Aro, Kec. Muara Bulian, Kab. Batang Hari, Jambi. "Hidup adalah perjalanan panjang menuju kemuliaan, kemuliaan adalah memberikan manfaat bagi diri sendiri dan lingkungan. Tak perlulah melihat sejauh mana perjalanan yang telah dan akan ditempuh..."
Pos ini dipublikasikan di Pupuk & Pemupukan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s