~ Oemar Bakri Tak Tahan Lagi ~

Oemar Bakri tak tahan lagi memelihara ribuan luka

Dilepasnya di jalanan dan terbentuklah pasukan

berbaris dari kaki-kaki bukit dari tempat-tempat terpencil

Wajah mereka pucat seperti cat tembok yang terkelupas

Paru-paru mereka koyak oleh debu kapu- tulis

Langkah mereka sempoyongan oleh kaki yang lelah

sehabis mengayuh sepeda tua dari waktu ke waktu

dengan ban yang gundul di jalan berbatu-batu

puluhan kilometer jaraknya

Puluhan tahun lamanya

Oemar Bakri tak tahan lagi merawat ribuan kesabaran

berpuluh tahun mengatur senyum di depan kelas

menjaga wajah pahlawan agar tak berubah muram

betapa pun dalamnya kerut-kerut keprihatinan

Sebab hanya pahlawan yang senyum

dapat mengajarkan matematika

bukan Ilmu Hitung Pak Guru: kali-bagi-tambah-kurang

bahwa seribu kali seribu-sakit-hati

hanya boleh dibagi di antara anak-istri

bahwa gaji bulan ini tambah seratus bulan lagi

tak akan pernah membuat utang berkurang

Sebab pahlawan yang senyum mengajarkan gugusan angka

bukan catatan potongan yang deretannya lebih panjang

di daftar gaji dalam amplop yang kosong

Oemar Bakri tak tahan lagi untuk berpura-pura arif

di hadapan begitu aneka ragam murid

anak orang kaya yang selalu mau dimanja

anak pejabat yng kolokan dan merasa paling kuasa

anak petani dan nelayan yang rendah diri dalam pergaulan

dan suka terlambt membyar iuran

Juga orangtua yang menjadikan guru seolah pengasuh

yang harus mengawasi anak-anaknya sehari penuh

dan menganggap nilai ujian bisa diukur dengan pemberian

Oemar Bakri tak tahan lagi

untuk selalu memahami tapi tidak dipahami

Oemar Bari tak tahan lagi

dan tak seorang pun yang tak mengerti

April 2000

Yayat Hendayana

Tentang robby58

Robby Asti Pratama. SP Seorang Penyuluh THL TBPP Angkatan III Thn. 2009, bekerja di WKPP Aro, Kec. Muara Bulian, Kab. Batang Hari, Jambi. "Hidup adalah perjalanan panjang menuju kemuliaan, kemuliaan adalah memberikan manfaat bagi diri sendiri dan lingkungan. Tak perlulah melihat sejauh mana perjalanan yang telah dan akan ditempuh..."
Pos ini dipublikasikan di Puisi. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s