Mengendalikan Keong Mas pada tanaman padi sawah


Keong mas dengan bahasa latin Pomacea canaliculata merupakan salah satu hama utama tanaman padi. Keong mas warnanya memang sangat menarik, namun dibalik warna keemasannya keong tersebut juga dapat membawa malapetaka bagi petani yang menanam padi terutama pada lahan sawah beririgasi. Akibat hama keong mas pertanaman padi di lapangan yang terserang akan menjadi banyak bibit yang hilang di pertanaman. Oleh karena itu, diperlukan upaya pengendalian yang baik dan benar.

Tanaman padi merupakan salah satu komoditas pangan yang harus terpenuhi kecukupannya untuk menunjang kelangsungan hidup sebahagian besar penduduk Indonesia. Salah satu upaya untuk mempertahankan kecukupan pangan adalah melalui pengendalian faktor-faktor pembatas. Salah satu faktor pembatas yang penting adalah serangan hama dan penyakit.
Keong mas merupakan salah satu hama penting pada tanaman padi di Indonesia dan keong mas telah menjadi hama utama terutama pada areal sawah beririgasi. Tingkat serangan hama tersebut tergolong cukup tinggi dan kerugian yang ditimbulkan oleh hama ini cukup besar. Misalnya pada tahun 1989 di Filipina kerusakan tanaman padi mencapai 400.000 ha. Di Indonesia gangguan hama keong mas juga cukup signifikan. Umumnya serangan beratnya terjadi di persemaian sampai tanaman berumur dibawah 4 minggu setelah tanam. Pada tanaman dewasa, gangguan keong mas hanya terjadi pada anakan sehingga jumlah anakan produktif menjadi berkurang.

Perkembangan hama ini sangat cepat, dari telur hingga menetas hanya butuh waktu 7-4 hari. Disamping itu, satu ekor keong mas betina mampu menghasilkan 15 kelompok telur selama satu siklus hidup (60-80 hari), dan masing-masing kelompok telur berisi 300-500 butir. Seekor keong mas dewasa mampu menghasilkan 1000-1200 telur per bulan.
Keong mas dibalik warnanya yang menarik, ternyata dapat merusak tanaman dengan cara memarut jaringan tanaman dan memakannya. Akibatnya banyak bibit yang hilang di per­tanaman. Bekas potongan daun padi dan batang yang diserangnya pun akan terlihat mengambang. Waktu kritis untuk mengendalikan hama keong mas adalah pada saat 10 hari setelah tanam pindah, atau 21 hari setelah sebar benih (benih basah). Setelah itu laju pertumbuhan tanaman lebih besar daripada laju kerusakan oleh keong mas.
Bila terjadi serangan keong mas, sawah perlu segera dikeringkan, karena keong mas menyenangi tempat-tempat yang digenangi air. Jika petani menanam dengan sistem tanam pindah, maka pada 15 hari setelah tanam pindah sawah perlu dikeringkan kemudian digenangi lagi secara bergantian (flash flood = intermitter irrigation). Bila padi ditanam dengan system sebar langsung, selama 21 hari setelah sebar, sawah perlu dikeringkan, kemudian digenangi lagi secara bergantian.

Selain itu, perlu dibuat caren di dalam dan di sekeliling petakan sawah sebelum tanam, baik di musim hujan maupun kemarau. Ini dimaksudkan agar pada saat dilakukan pengeringan, keong mas akan menuju caren sehingga memudahkan pengambilan keong mas dan sebagai salah satu cara pengendaliannya.
Keberadaan keong mas di lapang ditandai oleh adanya telur berwarna merah-muda dan keong mas dengan berbagai ukuran dan warna. Keong mas merupakan salah satu hama penting yang menyerang padi muda terutama di sawah yang ditanam dengan sistem tabela. Untuk mengatasi perkembangan hama keong mas ini secara luas perlu dilakukan pengendalian yang tepat dan efektif, sehingga perkembangan keong mas dapat ditekan sampai berada dibawah ambang ekonomi. Beberapa teknologi pengendalian yang dapat dilakukan yaitu pengendalian secara mekanik, pengendalian secara biologi dan pengendalian secara kimia.

Secara mekanik yaitu pemberantasan hama keong mas dilakukan dengan : (a) pemungutan secara berkala 3 kali seminggu dan dihancurkan serta telur dihancurkan dengan kayu/bambu; (b) menggunakan saringan berukuran 5 mm mesh yang dipasang pada tempat air masuk di pematang untuk meminimalkan masuknya keong mas ke sawah dan memudahkan pemungutan dengan tangan; (c) metanam bibit umur > 21 hari dan tanam lebih dari satu bibit per rumpun; (d) buat caren di dalam dan di sekeliling petakan sawah.

Secara biologi yaitu pemberantasan hama keong mas dengan melepas itik dan membuat perangkap telur.
Secara kimia yaitu pemberantasan hama keong mas dilakukan dengan menggunakan pestisida yang berbahan aktif niclos amida dan pestisida botani seperti lerak, deris, dan saponine. Aplikasi pestisida dapat dilakukan di sawah yang tergenang di caren atau di cekungan-cekungan yang ada airnya tempat keong mas berkumpul.

Beberapa Keuntungan dari Pengendalian Hama Keong mas
a. Dapat menghindari kerusakan tanaman terutama di persemaian, tanaman muda dan anakan produktif.
b. Dapat menghindari kerusakan lingkungan akibat penggunaan pestisida yang berlebihan.
c. Dapat mengoptimalkan produksi padi sesuai dengan daya dukung lahan.

About these ads

Tentang robby58

Robby Asti Pratama. SP Seorang Penyuluh THL TBPP Angkatan III Thn. 2009, bekerja di WKPP Aro, Kec. Muara Bulian, Kab. Batang Hari, Jambi. "Hidup adalah perjalanan panjang menuju kemuliaan, kemuliaan adalah memberikan manfaat bagi diri sendiri dan lingkungan. Tak perlulah melihat sejauh mana perjalanan yang telah dan akan ditempuh..."
Tulisan ini dipublikasikan di Hama & Penyakit. Tandai permalink.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s